NRP : 3203013166
Kecurangan
akuntansi atau dalam Bahasa Inggris diistilahkan dengan kata fraud
dalam arti sempit merupakan kebohongan yang dibuat untuk keuntungan
pribadi tetapi merugikan orang lain apapun bentuknya. Kecurangan akuntansi
sering terjadi dalam praktik akuntansi suatu perusahaan maupun entitas tertentu
yang menggunakan standar akuntansi sebagai prinsip pembukuannya. Oleh karena
itu, fraud tidak sedikit mendapat
perhatian dari kalangan-kalangan aktivis akuntansi terutama auditor-auditor.
Pelaku tindakan fraud dapat
menghancurkan suatu bisnis perusahaan maupun entitas tertentu dan pada dasarnya
tindakan praktik fraud ini sangat
merugikan bagi pihak intern maupun ekstern perusahaan atau entitas terntentu
tersebut.
Artikel
ini berisi alasan-alasan mengapa seorang melakukan fraud yang diambil dari sudut pandang dan argumen penulis. Penulis
menjelaskan ada dua faktor yang mengakibatkan terjadinya fraud atau kecurangan akuntansi yaitu faktor eksternal atau
lingkungan dan faktor internal atau pribadi. Berikut adalah penjabaran
faktor-faktor dari penulis beserta penjelasannya. Penulis berharap artikel ini
dapat memberikan faedah, pengetahuan serta dapat dijadikan sebagai pencegah
diri sendiri maupun orang lain agar tidak melakukan fraud atau kecurangan akuntansi sehingga, dapat menyelamatkan
bisnis perusahaan dan diri sendiri.
Faktor-faktor
seseorang melakukan fraud atau
kecurangan akuntansi adalah:
1.
Faktor eksternal
atau faktor lingkungan
Yaitu faktor
dari luar pribadi seseorang yang mendorong seseorang melakukan fraud yang erat hubungannya dengan suatu
organisasi dimana ia berada sebagai korban perbuatan kecurangan. Faktor ini
meliputi:
a.
Kesempatan (opportunity)
Karena adanya kesempatan, seseorang akan dengan
mudah melakukan kecurangan dengan semata-mata agar mendapat keuntungan pribadi.
Kesempatan ini tergantung pada kedudukan pelaku tersebut terhadap sesuatu yang
akan dijadikan sebagai objek kecurangan. Pada umumnya, pelaku kecurangan adalah
manajemen suatu perusahaan atau entitas tertentu yang memiliki potensi,
kedudukan maupun kekuasaan yang lebih besar daripada karyawan biasa. Hal ini
patut digaris bawahi, bahwa kesempatan untuk melakukan kecurangan tidak hanya
dapat dilakukan oleh manajemen puncak saja, melainkan siapapun itu yang
memiliki kesempatan dapat melakukan kecurangan.
b.
Pengungkapan (exposure)
Kecurangan akuntansi yang terungkap dalam suatu
perusahaan atau entitas tertentu tidak menjamin tidak akan terulang kembali.
kecurangan tersebut bisa saja terulang kembali oleh pelaku yang sama maupun
oleh pelaku yang lain. Hal tersebut dapat sangat mungkin terjadi karena
sedikitnya rasa jera pelaku itu sendiri. Tindakan fraud memberikan sebuah
kepuasan kepada pelakunya, disamping itu tingkat pengawasan yang kurang memadai
dan disamping itu, umum nya perusahaan-perusahaan
yang memiliki bisnis berskala menengah tidak memiliki software yang canggih yang dapat menyimpan seluruh database asset perusahaan dengan rapi dan strategis.
Oleh karena itu, para pelaku akan dengan mudah meretas masuk dalam sistem
akuntansi perusahaan tersebut.
c.
Pengaruh ( persuasion)
Pengaruh yang diberikan oleh rekan kerja, atasan
maupun bawahan dapat menjadi alasan mengapa seseorang melakukan fraud. Seseorang yang semula berperilaku
jujur dan memiliki dedikasi tinggi kepada perusahaan dengan seketika akan
berubah karena bujukan, rayuan bahkan ancaman dari luar yang menyebabkan ia
masuk ke dalam lubang persengkongkolan fraud.
2.
Faktor internal
atau faktor pribadi
Yaitu faktor
yang berhhubungan dengan individu atau sebagai subjek tindakan kecurangan
akuntansi. Faktor ini meliputi:
a.
Ketamakan (greed)
Ketamakan adalah rasa yang tidak pernah puas atas
sesuatu yang telah didapat atau diraih. Ketamakan membuat seseorang takabur terhadap
hal-hal dunia seperti: banyak uang, kehidupan berkecukupan, dapat memakai
perhiasan mewah, mobil mahal, dan lain-lain. Hal tersebutlah, membuat seseorang
memilih melakukan jalan pintas dan cepat untuk dapat memnuhi semua hasrat
keduniawiannya tersebut. Tidak jarang bahwa pelaku fraud memiliki motif tersebut karena silau akan segala hal duniawi
yang ditawarkan.
b.
Kebutuhan (needs)
Tuntutan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang berat menyebabkan seseorang yang semula bekerja dengan
sangat jujur mempunyai motivasi untuk melakukan kecurangan. Lagi-lagi karena
kebutuhanlah yang semakin banyak dan berat memuat seseorang menjadi lupa diri.
c.
Moralitas rendah
Moralitas yang rendah dapat menjadi pemicu seseorang
melakukan fraud. Moralitas yang
rendah melekat dalam diri seseorang melalui proses sosialisasi yang tidak
sempurna. Lingkungan yang tidak mendukung, pengaruh ekstrim dari luar, serta
pengendalian diri yang kurang dapat menyebabkan seseorang tidak memiliki moral
yang baik dan mumpuni. Hal inilah salah satunya dapat menjadi buah tindakan fraud apabila tidak diimbangi dengan
etika yang baik dan pengendalian diri yang baik juga.
Pencegahan praktik fraud atau kecurangan akuntansi dapat dilakukan dengan beberapa
cara menurut Wilopo (2006) dalam penelitiannya tentang menghilangkan perilaku
tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi dapat dilakukan
antara-lain :
1.
Perbaikan sistem
pengawasan dan pengendalian.
2.
Pelaksanaan good governance.
3.
Mengefektifkan
pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.
4.
Memperbaiki
moral dari pengelola perusahaan yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap
komitmen terhadap perusahaan, negara, dan masyarakat.
Demikianlah penjabaran dan penjelasan penulis
tentang alasan seseorang melakukan fraud (kecurangan)
dalam akuntansi. Penulis berharap dengan memahami beberapa faktor-faktor
penyebab diatas dapat merangsang pembaca untuk mencari jalan keluar yang tepat
untuk mencegah dan menghentikan kecurangan akuntansi. Pada dasarnya bahwa,
kecurangan akuntansi berdampak negatif kepada citra nusa,bangsa dan negara.
bagus sihh infonya...coma sayang sumber footnote tidak dicantumkan #masukan
BalasHapus