Minggu, 23 November 2014

APAKAH ALASAN SESEORANG MELAKUKAN FRAUD (KECURANGAN) DALAM AKUNTANSI?

Nama : Yani Christiani
NRP : 3203013166

Kecurangan akuntansi atau dalam Bahasa Inggris diistilahkan dengan kata fraud  dalam arti sempit merupakan kebohongan yang dibuat untuk keuntungan pribadi tetapi merugikan orang lain apapun bentuknya. Kecurangan akuntansi sering terjadi dalam praktik akuntansi suatu perusahaan maupun entitas tertentu yang menggunakan standar akuntansi sebagai prinsip pembukuannya. Oleh karena itu, fraud tidak sedikit mendapat perhatian dari kalangan-kalangan aktivis akuntansi terutama auditor-auditor. Pelaku tindakan fraud dapat menghancurkan suatu bisnis perusahaan maupun entitas tertentu dan pada dasarnya tindakan praktik fraud ini sangat merugikan bagi pihak intern maupun ekstern perusahaan atau entitas terntentu tersebut.
Artikel ini berisi alasan-alasan mengapa seorang melakukan fraud yang diambil dari sudut pandang dan argumen penulis. Penulis menjelaskan ada dua faktor yang mengakibatkan terjadinya fraud atau kecurangan akuntansi yaitu faktor eksternal atau lingkungan dan faktor internal atau pribadi. Berikut adalah penjabaran faktor-faktor dari penulis beserta penjelasannya. Penulis berharap artikel ini dapat memberikan faedah, pengetahuan serta dapat dijadikan sebagai pencegah diri sendiri maupun orang lain agar tidak melakukan fraud atau kecurangan akuntansi sehingga, dapat menyelamatkan bisnis perusahaan dan diri sendiri.
Faktor-faktor seseorang melakukan fraud atau kecurangan akuntansi adalah:
1.         Faktor eksternal atau faktor lingkungan
Yaitu faktor dari luar pribadi seseorang yang mendorong seseorang melakukan fraud yang erat hubungannya dengan suatu organisasi dimana ia berada sebagai korban perbuatan kecurangan. Faktor ini meliputi:
a.         Kesempatan (opportunity)
Karena adanya kesempatan, seseorang akan dengan mudah melakukan kecurangan dengan semata-mata agar mendapat keuntungan pribadi. Kesempatan ini tergantung pada kedudukan pelaku tersebut terhadap sesuatu yang akan dijadikan sebagai objek kecurangan. Pada umumnya, pelaku kecurangan adalah manajemen suatu perusahaan atau entitas tertentu yang memiliki potensi, kedudukan maupun kekuasaan yang lebih besar daripada karyawan biasa. Hal ini patut digaris bawahi, bahwa kesempatan untuk melakukan kecurangan tidak hanya dapat dilakukan oleh manajemen puncak saja, melainkan siapapun itu yang memiliki kesempatan dapat melakukan kecurangan.  

b.        Pengungkapan (exposure)
Kecurangan akuntansi yang terungkap dalam suatu perusahaan atau entitas tertentu tidak menjamin tidak akan terulang kembali. kecurangan tersebut bisa saja terulang kembali oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain. Hal tersebut dapat sangat mungkin terjadi karena sedikitnya rasa jera pelaku itu sendiri. Tindakan  fraud memberikan sebuah kepuasan kepada pelakunya, disamping itu tingkat pengawasan yang kurang memadai dan disamping itu, umum nya  perusahaan-perusahaan yang memiliki bisnis berskala menengah tidak memiliki software yang canggih yang dapat menyimpan seluruh database  asset perusahaan dengan rapi dan strategis. Oleh karena itu, para pelaku akan dengan mudah meretas masuk dalam sistem akuntansi perusahaan tersebut.

c.         Pengaruh ( persuasion)
Pengaruh yang diberikan oleh rekan kerja, atasan maupun bawahan dapat menjadi alasan mengapa seseorang melakukan fraud. Seseorang yang semula berperilaku jujur dan memiliki dedikasi tinggi kepada perusahaan dengan seketika akan berubah karena bujukan, rayuan bahkan ancaman dari luar yang menyebabkan ia masuk ke dalam lubang persengkongkolan fraud.

2.         Faktor internal atau faktor pribadi
Yaitu faktor yang berhhubungan dengan individu atau sebagai subjek tindakan kecurangan akuntansi. Faktor ini meliputi:
a.         Ketamakan (greed)
Ketamakan adalah rasa yang tidak pernah puas atas sesuatu yang telah didapat atau diraih. Ketamakan membuat seseorang takabur terhadap hal-hal dunia seperti: banyak uang, kehidupan berkecukupan, dapat memakai perhiasan mewah, mobil mahal, dan lain-lain. Hal tersebutlah, membuat seseorang memilih melakukan jalan pintas dan cepat untuk dapat memnuhi semua hasrat keduniawiannya tersebut. Tidak jarang bahwa pelaku fraud memiliki motif tersebut karena silau akan segala hal duniawi yang ditawarkan.

b.        Kebutuhan (needs)
Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berat menyebabkan seseorang yang semula bekerja dengan sangat jujur mempunyai motivasi untuk melakukan kecurangan. Lagi-lagi karena kebutuhanlah yang semakin banyak dan berat memuat seseorang menjadi lupa diri.

c.         Moralitas rendah
Moralitas yang rendah dapat menjadi pemicu seseorang melakukan fraud. Moralitas yang rendah melekat dalam diri seseorang melalui proses sosialisasi yang tidak sempurna. Lingkungan yang tidak mendukung, pengaruh ekstrim dari luar, serta pengendalian diri yang kurang dapat menyebabkan seseorang tidak memiliki moral yang baik dan mumpuni. Hal inilah salah satunya dapat menjadi buah tindakan fraud apabila tidak diimbangi dengan etika yang baik dan pengendalian diri yang baik juga.  

Pencegahan praktik fraud atau kecurangan akuntansi dapat dilakukan dengan beberapa cara menurut Wilopo (2006) dalam penelitiannya tentang menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi dapat dilakukan antara-lain :
1.         Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.
2.         Pelaksanaan good governance.
3.         Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.
4.         Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara, dan masyarakat.

Demikianlah penjabaran dan penjelasan penulis tentang alasan seseorang melakukan fraud (kecurangan) dalam akuntansi. Penulis berharap dengan memahami beberapa faktor-faktor penyebab diatas dapat merangsang pembaca untuk mencari jalan keluar yang tepat untuk mencegah dan menghentikan kecurangan akuntansi. Pada dasarnya bahwa, kecurangan akuntansi berdampak negatif kepada citra nusa,bangsa dan negara. 

1 komentar:

  1. bagus sihh infonya...coma sayang sumber footnote tidak dicantumkan #masukan

    BalasHapus