Rabu, 26 November 2014

Kesiapan Pemerintah Indonesia Menghadapi AEC 2015 Dengan Perencanaan Pembangunan ‘Tol Laut’

Nama : Gratia Lidia Noventha Sanda
Kelas : A
NRP : 3203013222

Kesiapan Pemerintah Indonesia Menghadapi AEC 2015 Dengan Perencanaan Pembangunan ‘Tol Laut’

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Selama lebih dari empat dekade ASEAN telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan yang positif dan signifikan untuk menuju tahapan baru yang lebih integratif dan berwawasan ke depan dengan dibentuknya Komunitas ASEAN (ASEAN Community) pada tahun 2015.
Pembentukan Komunitas ASEAN diawali dengan komitmen para pemimpin ASEAN dengan ditandatanganinya ASEAN Vision 2020 di Kuala Lumpur pada tahun 1997 yang bertujuan untuk lebih mempererat integrasi ASEAN dalam menghadapi perkembangan konstelasi politik internasional. ASEAN menyadari sepenuhnya bahwa ASEAN perlu menyesuaikan cara pandangnya agar dapat lebih terbuka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal selain itu pembentukan komunitas ASEAN juga mencita-citakan agar ASEAN sebagai suatu komunitas yang berpandangan maju, hidup dalam lingkungan yang damai, stabil dan makmur, serta dipersatukan oleh hubungan kemitraan.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki populasi terbesar yang ada di kawasan ASEAN. Indonesia juga merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman yang di timbulkan dengan adanya berbagai jenis budaya, suku, dan bahasa, mulai dari ujung Sabang sampai Merauke. Selain itu, Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup baik, yang dimana Indonesia merupakan Negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia setelah India. Oleh karena itu, ini akan menjadi modal utama yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Akan tetapi, disisi lain keterbatasan infrastruktur dalam negeri menjadi masalah yang sangat membutuhkan perhatian penting dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) 2015 mendatang. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi AEC 2015 mendatang, seperti yang dilansir oleh sumber: www.kompas.com menurut Menteri Pedagangan Indonesia.
Pertama, terkait infrastruktur, upaya yang sedang dan akan terus dilakukan adalah memanfaatkan pelabuhan dan bandara berstatus internasional serta PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) untuk meningkatkan promosi investasi di bidang infrastruktur. Selain itu, meningkatkan kerjasama infrastruktur dengan sektor swasta, meningkatkan anggaran dalam pembangunan infrastruktur dan pembangunan konektivitas antar provinsi, meningkatkan kerjasama subregional agar pembangunan infrastruktur tidak terkonsentrasi di Semenanjung Malaya dan Indochina. Juga, meningkatkan pasokan energi dan listrik agar dapat bersaing dengan negara yang memiliki infrastruktur yang lebih baik.
Kedua, dalam upaya mendorong pengembangan industri nasional, pemerintah akan memberikan insentif fiskal. Pemberian insentif fiskal dan tersebut seperti pembebasan Pajak Penghasilan badan untuk jangka waktu 5 sampai dengan 10 tahun serta tambahan pengurangan Pajak Penghasilan sebesar 50 persen selama dua tahun untuk industri pionir. Ditambah lagi dengan investement allowance sebesar 30 persen dari nilai penanaman modal, percepatan penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, pengurangan tauf PPh atas dividen luar negeri dan perpanjangan kompensasi kerugian bagi investasi di bidang usaha atau daerah dengan prioritas tinggi skala nasional.
Dan yang ketiga, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pengembangan KEK ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan daya saing ekonomi menyongsong AEC 2015. Fungsi KEK adalah untuk melakukan dan mengembangkan usaha dibidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, pariwisata dan bidang lain.
Pemerintahan baru pimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) berencana membangun proyek infrastruktur berupa 'tol laut'. Konsep ‘tol laut’ bukanlah membangun jalan tol di atas laut, melainkan penyediaan sistem distribusi logistik menggunakan kapal besar yang menghubungkan dari ujung barat Indonesia hingga ke ujung timur. Pemerintah akan berfokus pada pembangunan tol laut menjadi sarana yang wajib dibangun guna menopang Indonesia sebagai negara maritim yang hebat. 
Menurut pemberitaan yang di lansir oleh sumber: www.liputan6.com  Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas telah mendesain konsep tol laut Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan 24 pelabuhan, antara lain, Pelabuhan Banda Aceh, Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Batam, Padang, Pangkal Pinang, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Tanjung Priok, Cilacap, Tanjung Perak, Lombok, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Maloy, Makassar, Bitung, Halmahera, Ambon, Sorong, Merauke dan Jayapura. Dengan gambaran dan anggaran sebagai berikut :


Dengan anggaran untuk investasi pengembangan 24 pelabuhan senilai  Rp.39,5 triliun dan anggaran investasi pengadaan kapal senilai Rp.53,15 triliun, diharapkan pembangunan ini kedepannya dapat berlangsung dengan baik untuk mempersiapkan kedepannya Indonesia di tahun mendatang menjadi Negara yang siap dalam menghadapi AEC 2015, dengan di dukung juga oleh Pemerintah yang berencana mengembangkan 16 kawasan industri untuk mendukung realisasi tol laut yang akan dan segeras digagas Presiden Joko Widodo.  Dengan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, proyek strategis yang akan dibangun untuk mendukung 16 kawasan industri diperkirakan menelan dana Rp 47,67 triliun. Kebutuhan tersebut terdiri dari proyek bandara senilai Rp 8,2 triliun, proyek jalan sebesar Rp 8,079 triliun, proyek kereta api sebanyak Rp 2,312 triliun, proyek ketenagalistrikan senilai Rp 10,477 triliun, proyek pelabuhan senilai Rp 17,664 triliun, serta proyek sumber daya air sebanyak Rp 939 miliar.
          Anggaran investasi untuk kedua proyek pemerintah baru ini yang terbilang cukup besar, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan buat kita sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) agar dapat turut serta mendukung pelaksaannya. Keterlibatan semua pihak di seluruh negara anggota ASEAN mutlak diperlukan agar dapat mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang kompetitif bagi kegiatan investasi dan perdagangan bebas yang pada gilirannya dapat memberikan manfaat bagi seluruh negara ASEAN.Untuk Indonesia sendiri, dengan jumlah populasi, luas dan letak geografi serta nilai PDB terbesar di ASEAN harus menjadi aset agar Indonesia bisa menjadi pemain besar dalam AEC 2015 nanti.
Sumber Referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar