Senin, 24 November 2014

Neraca Perdagangan Kembali Defisit Akibat Impor Migas

Nama : Vincensiana Alexandra
NRP : 3203013157

Neraca Perdagangan Kembali Defisit Akibat Impor Migas

            Neraca perdagangan (balance of trade) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara nilai moneter antara ekspor dan impor. Neraca perdagangan biasa disebut dengan ekspor netto. Neraca perdagangan yang positif berarti negara tersebut mengalami ekspor yang nilai moneternya melebihi impor, dan biasa disebut surplus perdagangan. Sementara itu jika neraca perdagangan menunjukkan kondisi negatif artinya nilai moneter impor melebihi ekspor, dan disebut sebagai defisit perdagangan.
            Baru-baru ini tepatnya pada September 2014 Indonesia kembali mengalami defisit neraca perdagangan sebesar 270,3 juta dollar AS. Data ini didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kepala BPS Dr. Suryamin, M.Sc, mengatakan bahwa ekspor pada September 2014 mencapai 15,28 miliar dollar AS, sedangkan impor pada periode sama mencapai 15,55 miliar dollar AS. Menurut beliau, penyumbang defisit perdagangan adalah sektor migas. Total defisit migas selama September 2014 sebesar USD 1,03 miliar, terdiri dari minyak mentah surplus USD 179,5 juta, hasil minyak (termasuk BBM) defisit USD 2,21 miliar, dan gas surplus USD 1 miliar. Defisit neraca perdagangan tahun ini sudah terjadi lima kali dengan nilai yang semakin mengecil. Pada Januari 2014 lalu neraca perdagangan defisit US$443,9 juta April 2014 defisit US$1,96 miliar, Juni 2014 defisit US$288,3 juta, dan Agustus 2014 desifit US$311,5 juta. Defisit neraca perdagangan yang terjadi pada September, dipicu tingginya defisit di sektor migas sebesar US$1,03 miliar.
Sedangkan, neraca perdagangan sektor non migas yang mengalami surplus US$ 0,76 miliar tidak mampu menutupi besarnya defisit migas. Pada September 2014, nilai ekspor mencapai US$15,28 miliar atau meningkat dibanding Agustus 2014. Demikian juga bila dibanding September 2013 meningkat 3,87 persen. Total ekspor September ini meliputi ekspor non migas US$12,65 miliar, dan ekspor migas US$2,62 miliar. Secara kumulatif ekspor Indonesia Januari-September 2014 mencapai US$132,71 miliar atau menurun dibanding periode yang sama tahun 2013, US$133,94 miliar.
Akibat defisit neraca perdagangan yang terjadi pada September 2014 yaitu melemahnya rupiah. Hal tersebut disampaikan Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova di Jakarta, Selasa (4/11). Ia mengatakan bahwa Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan karena faktor data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, bergerak melemah sebesar 32 poin menjadi Rp12.122 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.090 per dolar AS diakibatkan paparan data BPS yang menunjukkan defisitnya neraca perdagangan. Menurut dia, kembali terctatnya defisit neraca perdagangan Indonesia membuat sebagian pelaku pasar keuangan di dalam negeri khawatir terhadap fundamental ekonomi domestik. Hal ini menyebabkan respon negatif dari pelaku pasar. Semakin tinggi impor bisa membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar. Melemahnya rupiah akan membuat investor asing hengkang, sehingga aksi jual marak terjadi.
Menurut Ekonom senior INDEF, Ahmad Erani Yustika, ada 3 sebab yang membuat defisit neraca keuangan ini. Pertama, pemerintah tidak mendiversifikasi komoditas ekspor dan negara tujuan ekspor. Kedua, pemerintah tidak mengontrol impor bahan baku penolong yang mencapai 70 % dari total impor. Ketiga, pemerintah gagal mengendalikan subsidi BBM, yang berakibat pada tingginya impor migas.
            Dalam pemerintahan baru yang dipimpin oleh Jokowi belum mampu mengatasi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dalam waktu lima tahun ke depan. "Akan ada debat soal menutup defisit dari utang. Kita masih akan defisit karena kita butuh belanja besar," ujar Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro dalam Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri, Jumat (21/11). Bambang mengakui kualitas pengelolaan anggaran negara harus diperbaiki dengan memaksimalkan penerimaan dan mengoptimalkan belanja. Permasalahannya, Indonesia butuh anggaran besar untuk mendanai pembangunan sejalan dengan upaya memperbaiki fundamental ekonomi.
"Indonesia masih berkembang dan sebagai negara berkembang masih butuh pertumbuhan yang berkualitas untuk menekan tingkat kemiskinan absolute yang masih 11 persen dari total penduduk 250 juta jiwa. Kalau dikalikan itu sekitar 27,5 - 28 juta penduduk Indonesia masih miskin," katanya. Peran pemerintah melalui politik anggaran, kata Bambang, juga penting untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang bisa mengurangi tingkat pengangguran terbuka yang masih bertengger di kisaran 5 -6 persen dari total populasi. Hal ini penting untuk pula mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat yang tercermin dari rasio Gini yang masih tergolong tinggi di kisaran 0,41 persen hingga 0,43 persen.
"Jangan bandingkan pengangguran terbuka Indonesia yang 5-6 persen dengan pengangguran di Eropa dan Amerika Serikat yang di atas 20 persen, karena jumlah penduduknya beda," kata Bambang. Ia mengatakan indikator pembangunan tersebut, menjadi alasan pemerintah masih perlu menggenjot belanja, terutama untuk belanja produktif. Masalahnya adalah sumber penerimaan negara terutama dari perpajakan belum maksimal karena keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung untuk menggalinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar