Nama : Vincensiana Alexandra
NRP : 3203013157
Neraca Perdagangan
Kembali Defisit Akibat Impor Migas
Neraca perdagangan (balance of trade) adalah
sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara nilai
moneter antara ekspor dan impor. Neraca perdagangan biasa disebut dengan ekspor
netto. Neraca perdagangan yang positif berarti negara tersebut mengalami ekspor
yang nilai moneternya melebihi impor, dan biasa disebut surplus perdagangan.
Sementara itu jika neraca perdagangan menunjukkan kondisi negatif artinya nilai
moneter impor melebihi ekspor, dan disebut sebagai defisit perdagangan.
Baru-baru
ini tepatnya pada September 2014 Indonesia kembali mengalami defisit neraca perdagangan
sebesar 270,3 juta dollar AS. Data ini didapat dari Badan Pusat Statistik
(BPS). Kepala BPS Dr. Suryamin, M.Sc, mengatakan bahwa ekspor pada September 2014 mencapai 15,28 miliar
dollar AS, sedangkan impor pada periode sama mencapai 15,55 miliar dollar AS. Menurut
beliau, penyumbang defisit perdagangan adalah sektor migas. Total defisit migas
selama September 2014 sebesar USD 1,03 miliar, terdiri dari minyak mentah
surplus USD 179,5 juta, hasil minyak (termasuk BBM) defisit USD 2,21 miliar,
dan gas surplus USD 1 miliar. Defisit neraca perdagangan tahun ini sudah
terjadi lima kali dengan nilai yang semakin mengecil. Pada Januari 2014 lalu
neraca perdagangan defisit US$443,9 juta April 2014 defisit US$1,96 miliar,
Juni 2014 defisit US$288,3 juta, dan Agustus 2014 desifit US$311,5 juta.
Defisit neraca perdagangan yang terjadi pada September, dipicu tingginya
defisit di sektor migas sebesar US$1,03 miliar.
Sedangkan, neraca perdagangan sektor non migas yang mengalami surplus US$
0,76 miliar tidak mampu menutupi besarnya defisit migas. Pada September 2014,
nilai ekspor mencapai US$15,28 miliar atau meningkat dibanding Agustus 2014.
Demikian juga bila dibanding September 2013 meningkat 3,87 persen. Total ekspor
September ini meliputi ekspor non migas US$12,65 miliar, dan ekspor migas
US$2,62 miliar. Secara kumulatif ekspor Indonesia Januari-September 2014
mencapai US$132,71 miliar atau menurun dibanding periode yang sama tahun 2013,
US$133,94 miliar.
Akibat defisit neraca perdagangan yang terjadi pada September 2014 yaitu
melemahnya rupiah. Hal tersebut disampaikan Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan
Saudara Rully Nova di Jakarta, Selasa (4/11). Ia mengatakan bahwa Nilai tukar
rupiah kembali melanjutkan pelemahan karena faktor data neraca perdagangan
Indonesia yang kembali mengalami defisit. Nilai tukar rupiah yang
ditransaksikan antarbank di Jakarta, bergerak melemah sebesar 32 poin menjadi
Rp12.122 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.090 per dolar AS diakibatkan
paparan data BPS yang menunjukkan defisitnya neraca perdagangan. Menurut dia,
kembali terctatnya defisit neraca perdagangan Indonesia membuat sebagian pelaku
pasar keuangan di dalam negeri khawatir terhadap fundamental ekonomi domestik. Hal
ini menyebabkan respon negatif dari pelaku pasar. Semakin tinggi impor bisa
membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar. Melemahnya rupiah akan
membuat investor asing hengkang, sehingga aksi jual marak terjadi.
Menurut Ekonom senior INDEF, Ahmad Erani Yustika, ada 3 sebab yang
membuat defisit neraca keuangan ini. Pertama, pemerintah tidak mendiversifikasi
komoditas ekspor dan negara tujuan ekspor. Kedua, pemerintah tidak mengontrol
impor bahan baku penolong yang mencapai 70 % dari total impor. Ketiga,
pemerintah gagal mengendalikan subsidi BBM, yang berakibat pada tingginya impor
migas.
Dalam pemerintahan baru yang
dipimpin oleh Jokowi belum mampu mengatasi defisit anggaran pendapatan dan
belanja negara (APBN) dalam waktu lima tahun ke depan. "Akan ada debat
soal menutup defisit dari utang. Kita masih akan defisit karena kita butuh
belanja besar," ujar Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro dalam
Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri, Jumat (21/11). Bambang mengakui
kualitas pengelolaan anggaran negara harus diperbaiki dengan memaksimalkan
penerimaan dan mengoptimalkan belanja. Permasalahannya, Indonesia butuh
anggaran besar untuk mendanai pembangunan sejalan dengan upaya memperbaiki
fundamental ekonomi.
"Indonesia masih berkembang dan sebagai negara berkembang masih
butuh pertumbuhan yang berkualitas untuk menekan tingkat kemiskinan absolute
yang masih 11 persen dari total penduduk 250 juta jiwa. Kalau dikalikan itu
sekitar 27,5 - 28 juta penduduk Indonesia masih miskin," katanya. Peran
pemerintah melalui politik anggaran, kata Bambang, juga penting untuk
menciptakan kebijakan ekonomi yang bisa mengurangi tingkat pengangguran terbuka
yang masih bertengger di kisaran 5 -6 persen dari total populasi. Hal ini
penting untuk pula mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat yang tercermin
dari rasio Gini yang masih tergolong tinggi di kisaran 0,41 persen hingga 0,43
persen.
"Jangan bandingkan pengangguran terbuka Indonesia yang 5-6 persen
dengan pengangguran di Eropa dan Amerika Serikat yang di atas 20 persen, karena
jumlah penduduknya beda," kata Bambang. Ia mengatakan indikator
pembangunan tersebut, menjadi alasan pemerintah masih perlu menggenjot belanja,
terutama untuk belanja produktif. Masalahnya adalah sumber penerimaan negara
terutama dari perpajakan belum maksimal karena keterbatasan sumber daya manusia
dan infrastruktur pendukung untuk menggalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar