Selasa, 25 November 2014

Mengkaji kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM dengan prospektif baru

Nama : Yesikka Agustya Primada P
Kelas : A
NRP : 3203013132

Mengkaji kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM dengan prospektif baru

Selasa, tanggal 18 November merupakan babak awal perubahan yang di buat dalam pemerintahan Jokowi-JK, dimana seperti yang kita dapat rasakan bersama adanya kenaikan BBM bersubsidi yang telah di putuskan oleh pemerintahan yang masih di anggap baru ini. Dimana, dengan menaikan harga BBM yaitu solar dari Rp 5.500 per liter menjadi Rp 7.500 per liter, dan premium dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter. Penurunan harga BBM internasional disebabkan oleh sikap Arab Saudi yang tidak mau menambah jumlah lifting minyaknya serta karena di belahan Eropa dan AS belum masuk musim dingin. Namun, sikap Arab Saudi yang tidak mau menambah lifting minyaknya juga kemungkinan dalam rangka 'menolong' AS, terbukti di tengah-tengah penurunan harga minyak internasional, perekonomian AS mengalami perbaikan keputusan yang telah dibuat oleh presiden ini. Bagaimanapun juga keputusan Presiden Jokowi untuk menaikkan harga BBM tetap patut diapresiasi, setidaknya karena prediksinya yang cukup jitu. Harga BBM di Indonesia memang harus dinaikkan tahun ini, dan saran Bank Dunia untuk menaikkan harga BBM jangan diterjemahkan sebagai 'intervensi', namun karena saran tersebut benar adanya. Mengapa benar? Di tahun 2015 atau kwartal I/2015, kemungkinan besar AS akan menghentikan kebijakan tapering off dan sudah mulai mewacanakan penghentian kebijakan quantitative easing, yang itu berarti harga dollar akan kembali menguat yang menyebabkan harga minyak dunia akan menguat per barrelnya. Di samping itu, sebentar lagi daratan Eropa dan Amerika Serikat akan mengalami musim dingin yang itu berarti membutuhkan energi yang sangat besar, salah satunya yaitu BBM. Bagi warga negara Indonesia, keputusan Presiden Jokowi juga sebenarnya harus dapat dipahami dengan baik, sebab dengan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut, maka sebanyak 40% pemilik mobil di Indonesia kemungkinan besar akan menggunakan Pertamax karena selisih harganya lebih kecil dibandingkan premium
Dengan adanya keputsan telah dibuat telah mendapat sambutan yang berbeda-beda dari kalangan masyarakat banyak di setiap daerah. Dimana demo dari kalangan buruh pabrik, dari para supir angkutan umum, dan dari mahasiswa yang menjadi penyalur aspirasi banyak orang. Para buruh berlomba-lomba untu berdemo meminta kenaikan gaji, sehubungan dengan kenaikan bbm, dan tidak mau kalah dengan para supir angkutan umum yang mogok untuk tidak beroperasi, dan kalangan mahasiwa pun di berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga tidak kalah heboh untuk mengungkapkan keberatan adanya keputusan itu. Seakan mereka berlomba-lomba untuk menentang adanya keputusan tersebut.
Tetapi dengan adanya kebijakan yang telah diputuskan tersebut, dan kejadian yang terjadi akibat keputusannya itu tidak membuat Presiden ke-7 ini gentar terhadap apa yang sudah diputuskan. Dengan perhitungan statistik dan dari data yang didapat bahwa setiap tahun negara kita menghabiskan 300Triliun hanya untuk bahan bakar bersubsidi yang sebagian besar di nikmati bagi kalangan mampu, kalangan yang menggunakan mobil dan itu membuat susbsidi yang diberikan tidak tepat pada sasaran yang dituju, karna pada dasarnya subsidi diberikan kepada masyarakat kurang mampu, tepi malah di nikmati oleh masyarakat mampu, dan akomodasi pertahun untu kesehatan sebesar 70Triluin dan sisa 200Triliun untuk fasilitas umum seperti infrastruktur, sarana pendidikan yang tidak layak, jaminan sosial. Semua data statistik tersebut di dapat setiap tahunnya. Dengan biaya yang sebegitu besar Cuma hanya untuk BBM yang hanya menjadi gas lalu hilang, alangkah lebih baik jika digunakan yang lebih bermanfaat seperti: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, jaminan sosial, dll. Lebih baik benar-benar di salurkan bagi yang membutukan bantuan, daripada kita harus membuang-buang 300Triliun hanya untuk berfoya-foya dengan bahan bakar yang tidak ada bermanfaat bagi jangka panjang melainkan hanya jangka pendek saja.
Kita juga tidak menutup mata dengan keadaan ekonomi warga masyarakat Indonesia yang sebagian besar berpendapatan rendah, yang pelu adanya bantuan dari kita sekeliling bahkan dari pemerintah sekalipun.. Lalu pertanyaannya adalah jika kita tidak berubah dan membiasakan dengan keadaan seperti ini lalu kapan negara kita dapat berubah lebih baik. Banyak sebagian dari kita hanya melihat kejadian hari ini, tetapi tidak melihat bahwa ada hal yang baik yang bisa kita dapat setalh hari ini, yaitu bagaimana warga masyarakat kita di sejahterakan dengan kebijakan yang telah dibuat oleh Presiden. Rakyat hanya ingin hasil yang cepat, langsung. Tanpa melihat adanya peroses, tanpa menjalani adanya perjalanan nyata menuju perubahan baik yang dapat kita sama-sama rasakan nantinya.
Makanya kenapa pemerintah juga ingin adanya perubahan revolusi mental kepada masyarakat Indonesia, revolusi yang berhubungan dengan kasus ini adalah revolusi gaya hidup warga masyarakat Indonesia dari gaya hidup yang konsumtif beralih ke gaya hidup produktif. Ini juga membantu adanya penghematan bahan bakar, dimana bahan bakar hanya digunakan seperlunya bukan untuk gunakan foya-foya untuk hal yang tidak perlu. Melainkan semakin bijak  menggunakan segala sesuatunya, revolusi tentang cara pandang dan menyikapi segala sesuatunya, bahwa pemerintah sedemikian memutar otak untuk mensejahterakan kita bersama, tetapi pemerintah juga ingin adanya kerjasama yang baik agar program baru yang sudah direncanakan dan disusun dengan begitu matang dapat terlaksana. harus ada rasa percaya yang besar terhadap para pemimpin kita. Banyaknya kekurangan dan fasilitas yang belum memadai bagi para warga masyarakat itu yang membuat untuk menaikan harga BBM yang ada pada saat ini. Banyaknya masyarakat miskin yang meninggal karna kurangnya biaya untuk berobat karna minimnya fasilitas kesehatan bagi masyarakat-masyarakat kurang mampu dan adanya diskriminasi bagi warga kurang mampu dan warga mampu dalam rumah sakit. Dan minimnya sarana dan prasarana pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dan bagi anak-anak di plosok desa dan daerah. Dan fasilitas umum, seperti infrastruktur perbaikan jalan raya, dan pembuatan jalan yang layak bagi daerah pedalaman, jalan yang aman untuk anak-anak pergi sekolah tidak perlu lagi harus melewati sungai yang belum tentu aman untuk keselamatan mereka. Begitu banyak hal yang belum kita sama-sama tau tentang apa saja yang terjadi di negeri kita ini, kekurangan apa saja yang kita belum sama-sama capai untuk pemerataan yang sajahtera yang sama-sama kita dapat rasakan bersama. Jika kenaikan BBM yang naik hanya 2000 saja sudah merasa resah bagaimana dengan saudara kita yang berada di luar jawa yang harus menempuh jarak yang panjang untuk mendapatkan bahan bakar bukan sepeti kita yang hanya berjarak beberapa meter telah tersedia pom bensin untuk pengisian bahan bakar dan harganya pun masih di bawah 10.000 per 1 liternya. Sedangkan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, harga pertamax dijual seharga 12.950 per liter dan premium dijual dengan harga 11.500 per 1 liternya. Bisa di lihat bagaimana beruntungnya kita yang masih tinggal di daerah yang tidak perlu susah untuk mendapatkann bahan bakar. Hanya karna naik 2000 dan itu untuk kepentingan kita bersama, tetapi banyak hal yang harus di pertaruhkan untuk mencapai semua itu dengan sikap kita yang terlalu mementingkan diri sendiri, tanpa berfikir hal baik yang dapat dicapai setelah keputusan ini. Marilah kita dukung setiap apa yang baik dan setiao kegiatan yang kita tau arah dan tujuan kemana. Agar tercipta keselarasan dan keseimbangan hidup di negara kita tercinta ini. Tanpa harus melihat sekeliling kita kesusahan, melainkan dapat menikmati segala apa yang mudah dan segala apa yang baik tanpa melihat derajat dan martabat kita di lingkungan sosial kita di masyarakat.

1 komentar:

  1. Kajian melalui tulisan teramat sangat keliru dan tidak berrbasis data yang lebih komprehensif...Mungkin penulis perlu belajar tentang NEOLIBERALISME dan dokumen intervensi kebijakan ekonomi dari IMF,Bank Dunia,ADB dll...Jujur saya katakan bahwa kajian ini sangat tidak ilmiah dan dangkal kadarnya...

    BalasHapus