Kelas : A
NRP : 3203013132
Mengkaji kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM dengan
prospektif baru
Selasa, tanggal 18 November merupakan
babak awal perubahan yang di buat dalam pemerintahan Jokowi-JK, dimana seperti
yang kita dapat rasakan bersama adanya kenaikan BBM bersubsidi yang telah di
putuskan oleh pemerintahan yang masih di anggap baru ini. Dimana, dengan
menaikan harga BBM yaitu solar dari Rp 5.500 per liter menjadi Rp 7.500 per
liter, dan premium dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter.
Penurunan harga BBM internasional
disebabkan oleh sikap Arab Saudi yang tidak mau menambah jumlah lifting
minyaknya serta karena di belahan Eropa dan AS belum masuk musim dingin. Namun,
sikap Arab Saudi yang tidak mau menambah lifting minyaknya juga kemungkinan
dalam rangka 'menolong' AS, terbukti di tengah-tengah penurunan harga minyak
internasional, perekonomian AS mengalami perbaikan keputusan yang telah dibuat
oleh presiden ini. Bagaimanapun juga keputusan Presiden Jokowi untuk menaikkan
harga BBM tetap patut diapresiasi, setidaknya karena prediksinya yang cukup
jitu. Harga BBM di Indonesia memang harus dinaikkan tahun ini, dan saran Bank
Dunia untuk menaikkan harga BBM jangan diterjemahkan sebagai 'intervensi',
namun karena saran tersebut benar adanya. Mengapa benar? Di tahun 2015 atau kwartal I/2015, kemungkinan besar AS akan
menghentikan kebijakan tapering off dan sudah mulai mewacanakan penghentian
kebijakan quantitative easing, yang itu berarti harga dollar akan kembali
menguat yang menyebabkan harga minyak dunia akan menguat per barrelnya. Di
samping itu, sebentar lagi daratan Eropa dan Amerika Serikat akan mengalami
musim dingin yang itu berarti membutuhkan energi yang sangat besar, salah
satunya yaitu BBM. Bagi warga negara Indonesia, keputusan Presiden Jokowi juga
sebenarnya harus dapat dipahami dengan baik, sebab dengan kenaikan harga BBM
bersubsidi tersebut, maka sebanyak 40% pemilik mobil di Indonesia kemungkinan
besar akan menggunakan Pertamax karena selisih harganya lebih kecil
dibandingkan premium
Dengan adanya keputsan telah dibuat
telah mendapat sambutan yang berbeda-beda dari kalangan masyarakat banyak di
setiap daerah. Dimana demo dari kalangan buruh pabrik, dari para supir angkutan
umum, dan dari mahasiswa yang menjadi penyalur aspirasi banyak orang. Para buruh
berlomba-lomba untu berdemo meminta kenaikan gaji, sehubungan dengan kenaikan
bbm, dan tidak mau kalah dengan para supir angkutan umum yang mogok untuk tidak
beroperasi, dan kalangan mahasiwa pun di berbagai perguruan tinggi di Indonesia
juga tidak kalah heboh untuk mengungkapkan keberatan adanya keputusan itu.
Seakan mereka berlomba-lomba untuk menentang adanya keputusan tersebut.
Tetapi dengan adanya kebijakan yang
telah diputuskan tersebut, dan kejadian yang terjadi akibat keputusannya itu
tidak membuat Presiden ke-7 ini gentar terhadap apa yang sudah diputuskan.
Dengan perhitungan statistik dan dari data yang didapat bahwa setiap tahun
negara kita menghabiskan 300Triliun hanya untuk bahan bakar bersubsidi yang
sebagian besar di nikmati bagi kalangan mampu, kalangan yang menggunakan mobil
dan itu membuat susbsidi yang diberikan tidak tepat pada sasaran yang dituju,
karna pada dasarnya subsidi diberikan kepada masyarakat kurang mampu, tepi
malah di nikmati oleh masyarakat mampu, dan akomodasi pertahun untu kesehatan
sebesar 70Triluin dan sisa 200Triliun untuk fasilitas umum seperti
infrastruktur, sarana pendidikan yang tidak layak, jaminan sosial. Semua data
statistik tersebut di dapat setiap tahunnya. Dengan biaya yang sebegitu besar
Cuma hanya untuk BBM yang hanya menjadi gas lalu hilang, alangkah lebih baik
jika digunakan yang lebih bermanfaat seperti: pendidikan, kesehatan,
infrastruktur, jaminan sosial, dll. Lebih baik benar-benar di salurkan bagi
yang membutukan bantuan, daripada kita harus membuang-buang 300Triliun hanya
untuk berfoya-foya dengan bahan bakar yang tidak ada bermanfaat bagi jangka
panjang melainkan hanya jangka pendek saja.
Kita juga tidak menutup mata dengan
keadaan ekonomi warga masyarakat Indonesia yang sebagian besar berpendapatan
rendah, yang pelu adanya bantuan dari kita sekeliling bahkan dari pemerintah
sekalipun.. Lalu pertanyaannya adalah jika kita tidak berubah dan membiasakan
dengan keadaan seperti ini lalu kapan negara kita dapat berubah lebih baik.
Banyak sebagian dari kita hanya melihat kejadian hari ini, tetapi tidak melihat
bahwa ada hal yang baik yang bisa kita dapat setalh hari ini, yaitu bagaimana
warga masyarakat kita di sejahterakan dengan kebijakan yang telah dibuat oleh
Presiden. Rakyat hanya ingin hasil yang cepat, langsung. Tanpa melihat adanya
peroses, tanpa menjalani adanya perjalanan nyata menuju perubahan baik yang
dapat kita sama-sama rasakan nantinya.
Makanya kenapa pemerintah juga ingin
adanya perubahan revolusi mental kepada masyarakat Indonesia, revolusi yang
berhubungan dengan kasus ini adalah revolusi gaya hidup warga masyarakat
Indonesia dari gaya hidup yang konsumtif beralih ke gaya hidup produktif. Ini
juga membantu adanya penghematan bahan bakar, dimana bahan bakar hanya
digunakan seperlunya bukan untuk gunakan foya-foya untuk hal yang tidak perlu.
Melainkan semakin bijak menggunakan
segala sesuatunya, revolusi tentang cara pandang dan menyikapi segala
sesuatunya, bahwa pemerintah sedemikian memutar otak untuk mensejahterakan kita
bersama, tetapi pemerintah juga ingin adanya kerjasama yang baik agar program
baru yang sudah direncanakan dan disusun dengan begitu matang dapat terlaksana.
harus ada rasa percaya yang besar terhadap para pemimpin kita. Banyaknya
kekurangan dan fasilitas yang belum memadai bagi para warga masyarakat itu yang
membuat untuk menaikan harga BBM yang ada pada saat ini. Banyaknya masyarakat
miskin yang meninggal karna kurangnya biaya untuk berobat karna minimnya
fasilitas kesehatan bagi masyarakat-masyarakat kurang mampu dan adanya
diskriminasi bagi warga kurang mampu dan warga mampu dalam rumah sakit. Dan
minimnya sarana dan prasarana pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dan bagi
anak-anak di plosok desa dan daerah. Dan fasilitas umum, seperti infrastruktur
perbaikan jalan raya, dan pembuatan jalan yang layak bagi daerah pedalaman,
jalan yang aman untuk anak-anak pergi sekolah tidak perlu lagi harus melewati
sungai yang belum tentu aman untuk keselamatan mereka. Begitu banyak hal yang
belum kita sama-sama tau tentang apa saja yang terjadi di negeri kita ini,
kekurangan apa saja yang kita belum sama-sama capai untuk pemerataan yang
sajahtera yang sama-sama kita dapat rasakan bersama. Jika kenaikan BBM yang
naik hanya 2000 saja sudah merasa resah bagaimana dengan saudara kita yang
berada di luar jawa yang harus menempuh jarak yang panjang untuk mendapatkan
bahan bakar bukan sepeti kita yang hanya berjarak beberapa meter telah tersedia
pom bensin untuk pengisian bahan bakar dan harganya pun masih di bawah 10.000
per 1 liternya. Sedangkan di Kabupaten Timor Tengah
Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, harga pertamax dijual seharga
12.950 per liter dan premium dijual dengan harga 11.500 per 1 liternya. Bisa di
lihat bagaimana beruntungnya kita yang masih tinggal di daerah yang tidak perlu
susah untuk mendapatkann bahan bakar. Hanya karna naik 2000 dan itu untuk
kepentingan kita bersama, tetapi banyak hal yang harus di pertaruhkan untuk
mencapai semua itu dengan sikap kita yang terlalu mementingkan diri sendiri,
tanpa berfikir hal baik yang dapat dicapai setelah keputusan ini. Marilah kita
dukung setiap apa yang baik dan setiao kegiatan yang kita tau arah dan tujuan
kemana. Agar tercipta keselarasan dan keseimbangan hidup di negara kita
tercinta ini. Tanpa harus melihat sekeliling kita kesusahan, melainkan dapat
menikmati segala apa yang mudah dan segala apa yang baik tanpa melihat derajat
dan martabat kita di lingkungan sosial kita di masyarakat.
Kajian melalui tulisan teramat sangat keliru dan tidak berrbasis data yang lebih komprehensif...Mungkin penulis perlu belajar tentang NEOLIBERALISME dan dokumen intervensi kebijakan ekonomi dari IMF,Bank Dunia,ADB dll...Jujur saya katakan bahwa kajian ini sangat tidak ilmiah dan dangkal kadarnya...
BalasHapus