Senin, 24 November 2014

Perilaku Konsumen

Nama : Shenta
Kelas : A
NRP :3203013176



 PERILAKU KONSUMEN

Pada dasarnya dalam kehidupannya dan dalam menghadapi lingkungan hidup, manusia melakukan kegiatannya berpedomankan kepada kebudayaan, yaitu seperangkat atau model pengetahuan (a set of model of the mind) yang digunakan untuk memahami, menghadapi, memanipulasi dan memanfaat­kan lingkungan hidupnya, baik lingkungan hidup fisik maupun sosial, serta digunakan sebagai pedoman untuk bertindak dan untuk memenuhi kebutuhan dasar utamanya (basic human needs).
Digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan keadaan serta arena sosial, tempat para pendukung kebu­dayaan tersebut melakukan kegiatannya.  Kebudayaan ini dimiliki oleh seorang individu melalui proses belajar dalam lingkungan hidup sosialnya, dan menjadi pengetahuan kebudayaan seorang individu sebagai pedoman hidupnya, yang isinya adalah skema-skema kognitif tentang lingkungan hidupnya. Skema-skema semacam itu sebenarnya merupakan suatu sistem pengkatego­rian mengenai lingkungan hidupnya dan terwujud secara nyata dalam kehidupan sosialnya; artinya bahwa seluruh kehidupan, baik fisik maupun sosial, yang dihadapi oleh warga masyarakat tertentu, ditangga­pi dan dinyatakan dalam simbol-simbol yang operasional sesuai dengan skema-skema kognitif yang berlaku dalam kebudayaannya. Salah satu wujud simbolik dari skema kognitif tersebut adalah, mengenai susunan dan arti serta makna warna-warna yang dapat dilihat secara empiris dengan menggunakan pancaindera mata. Dalam kehidupan masyarakat di manapun, warna-warna tadi dikategorikan dalam skema-skema kognitif yang memiliki arti dan makna yang berbeda, dan setiap warna yang mereka kenal mencerminkan arti dan makna simbo­lis tertentu, dan ini tampak nyata bahwa berbagai kegiatan manusia diberi arti dan makna simbolis atas dasar warna tertentu tersebut.
Dalam kehidupan sosial warga suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu, seringkali kita jumpai kecendrungan penggunaan warna terten­tu yang dianggap memberikan keuntungan, rezeki, dan kebahagiaan serta kehidupan dan ada pula warna-warna tertentu yang dianggap memberikan kerugian, kesengsaraan dan kesialan, atau kematian.  Warna-warna yang dianggap memiliki arti dan makna yang baik akan sering digunakan, sebaliknya warna yang digolongkan buruk akan dihindari, dan apabila digunakan maka penggunakannya pada waktu-waktu tertentu saja, atau dalam kaitannya dengan suatu keadaan yang dianggap buruk. Dengan demikian, setiap kebudayaan memiliki definisi dan pengertian mengenai arti dan makna simbolik dari warna seperti tersebut di atas ; dalam kehidupan masyarakat seringkali kita jumpai pula bahwa dalam masyarakat tersebut mengembangkan berbagai kebudayaan yang terwujud sebagai sub-sub kebudayaan dari kebudayaan yang dianut oleh warga masyarakat bersangkutan. Dalam keadaan seperti ini arti dan makna simbolis dari warna bisa saja dalam masyarakat memiliki pengertian yang berbeda-beda tergantung besar-kecilnya sub-kebudayaan yang ber­kembang dalam  masyarakat bersangkutan. Sebagai contoh, kebudayaan Jawa, secara umum ada ciri-ciri khusus mengenai kebudayaan, dan dalam kebudayaan tersebut dikembangkan pula pengertian-pengertian simbolis dari warna-warna yang ada, namun ser­ingkali kita jumpai pula perbedaan mengenai pengertian simbolis dari warna tertentu, tergantung sub kebudayaan yang berkembang dan dikem­bangkan dalam kebudayaan tersebut. Sub-kebudayaan bangsawan Jawa tentu mempunyai perbedaan terhadap interpretasi simbolis warna tertentu dibandingkan warga masyarakat biasa dari masyarakat Jawa. Tetapi seringkali interpretasi secara mendasar memiliki arti dan makna simbolis yang sama di antara sub-sub kebudayaan tersebut, dan jika ada perbedaan maka lebih merupakan pemanfaatan penggunaan arti dan makna simbolis tersebut. Perangkat demikian berlaku juga pada individu konsumen sebagai unit terkecil dari suatu masyarakat. Para konsumen selalu cendrung melihat pada untung-rugi bagi lingkungannya dan mengkaitkan pada kebutuhan serta motivasi, nilai dan latar belakang kebudayaannya. Apabila seseorang merencanakan untuk membeli mobil, misalnya, ia pasti memperhatikan banyak hal termasuk warna, lingkungan di mana ia mukim, membaca banyak iklan, mengamati mobil-mobil yang ada di jalan-raya atau yang sedang di pamerkan oleh para dealers, dan lain-lain.  Jika kebutuhan seseorang sangat mendesak, maka kecendrungannya untuk mengamati terhadap obyek yang relevan dengan kebutuhan itu akan meningkat seirama dengan rasa emosional yang ia miliki.
Para konsumen yang berbelanja di Supermarket dalam keadaan lapar misalnya, mungkin akan cepat terperanjat terhadap makanan yang dikemas merangsang meskipun barang itu masih asing baginya.  Bahkan pernah diusulkan oleh Lembaga Konsumen di AS, agar untuk menyesuaikan budget ekonomi anda - Jangan pergi ke Supermarket dalam keadaan lapar. Persepsi terhadap nilai-nilai yang menguntungkan seseorang sangat terpengaruh oleh latar-belakang kebudayaan masing-masing.
Ada contoh, misalnya produsen soft-drink menciptakan perangsang emosi calon pembelinya untuk melawan kehausan dengan kalimat/gambar/warna yang mengacu pada kesegaran alam atau daerah pegunungan es - tentu semua ini akan tidak dimengerti oleh konsumen yang bertempat di lingkungan yang berbeda dan mempunyai latar belakang kebudayaan berbe­da pula. Adapula kalimat yang humoristik atau sejenis yang pada umumnya ingin menambah / merubah persepsi konsumen yang sangat sadar baca-tulis (literal-minded) seperti slogan produk BBM Esso yang berbunyi  "A Tiger In Your Gas Tank"  Slogan ini tidak berhasil menarik perhatian di Swiss, bahkan diragukan maksudnya  karena kalimat itu sama sekali asing dan tidak dapat dicerna oleh konsumen di sana. Jargons seperti, bebas dari ....., santai, asri atau segar, sehat, new dan sejenis yang sering tercantum pada kemasan atau materi promosi harus hati-hati cara menyampaikan, juga warna harus dipertimbangkan. Istilah teknis seperti yang sering kita baca pada iklan mobil yang berbunyi :  Aero-Dynmis, Audio sekian Decibel dll. jarang dimengerti oleh konsumen bahkan cenderung membohongi karena istilah itu tidak didukung oleh suatu hasil penelitian teknis-laboratoris.
Hasilnya, semua ini akan menimbulkan persepsi yang salah karena berbe­danya latar-belakang sosial-budaya konsumen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar