Kelas : A
NRP :3203013176
PERILAKU KONSUMEN
Pada dasarnya dalam kehidupannya dan dalam menghadapi
lingkungan hidup, manusia melakukan kegiatannya berpedomankan kepada
kebudayaan, yaitu seperangkat atau model pengetahuan (a set of model of the
mind) yang digunakan untuk memahami, menghadapi, memanipulasi dan memanfaatkan
lingkungan hidupnya, baik lingkungan hidup fisik maupun sosial, serta digunakan
sebagai pedoman untuk bertindak dan untuk memenuhi kebutuhan dasar utamanya
(basic human needs).
Digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung
pada situasi dan keadaan serta arena sosial, tempat para pendukung kebudayaan
tersebut melakukan kegiatannya. Kebudayaan
ini dimiliki oleh seorang individu melalui proses belajar dalam lingkungan
hidup sosialnya, dan menjadi pengetahuan kebudayaan seorang individu sebagai
pedoman hidupnya, yang isinya adalah skema-skema kognitif tentang lingkungan
hidupnya. Skema-skema semacam itu sebenarnya merupakan suatu sistem pengkategorian
mengenai lingkungan hidupnya dan terwujud secara nyata dalam kehidupan
sosialnya; artinya bahwa seluruh kehidupan, baik fisik maupun sosial, yang
dihadapi oleh warga masyarakat tertentu, ditanggapi dan dinyatakan dalam
simbol-simbol yang operasional sesuai dengan skema-skema kognitif yang berlaku
dalam kebudayaannya. Salah satu wujud simbolik dari skema kognitif tersebut
adalah, mengenai susunan dan arti serta makna warna-warna yang dapat dilihat
secara empiris dengan menggunakan pancaindera mata. Dalam kehidupan masyarakat
di manapun, warna-warna tadi dikategorikan dalam skema-skema kognitif yang
memiliki arti dan makna yang berbeda, dan setiap warna yang mereka kenal
mencerminkan arti dan makna simbolis tertentu, dan ini tampak nyata bahwa
berbagai kegiatan manusia diberi arti dan makna simbolis atas dasar warna
tertentu tersebut.
Dalam kehidupan sosial warga suatu
masyarakat pendukung kebudayaan tertentu, seringkali kita jumpai kecendrungan
penggunaan warna tertentu yang dianggap memberikan keuntungan, rezeki, dan
kebahagiaan serta kehidupan dan ada pula warna-warna tertentu yang dianggap
memberikan kerugian, kesengsaraan dan kesialan, atau kematian. Warna-warna yang dianggap memiliki arti dan
makna yang baik akan sering digunakan, sebaliknya warna yang digolongkan buruk
akan dihindari, dan apabila digunakan maka penggunakannya pada waktu-waktu
tertentu saja, atau dalam kaitannya dengan suatu keadaan yang dianggap buruk. Dengan
demikian, setiap kebudayaan memiliki definisi dan pengertian mengenai arti dan
makna simbolik dari warna seperti tersebut di atas ; dalam kehidupan masyarakat
seringkali kita jumpai pula bahwa dalam masyarakat tersebut mengembangkan
berbagai kebudayaan yang terwujud sebagai sub-sub kebudayaan dari kebudayaan
yang dianut oleh warga masyarakat bersangkutan. Dalam keadaan seperti ini arti
dan makna simbolis dari warna bisa saja dalam masyarakat memiliki pengertian
yang berbeda-beda tergantung besar-kecilnya sub-kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat bersangkutan. Sebagai contoh,
kebudayaan Jawa, secara umum ada ciri-ciri khusus mengenai kebudayaan, dan
dalam kebudayaan tersebut dikembangkan pula pengertian-pengertian simbolis dari
warna-warna yang ada, namun seringkali kita jumpai pula perbedaan mengenai
pengertian simbolis dari warna tertentu, tergantung sub kebudayaan yang berkembang
dan dikembangkan dalam kebudayaan tersebut. Sub-kebudayaan bangsawan Jawa
tentu mempunyai perbedaan terhadap interpretasi simbolis warna tertentu
dibandingkan warga masyarakat biasa dari masyarakat Jawa. Tetapi seringkali
interpretasi secara mendasar memiliki arti dan makna simbolis yang sama di
antara sub-sub kebudayaan tersebut, dan jika ada perbedaan maka lebih merupakan
pemanfaatan penggunaan arti dan makna simbolis tersebut. Perangkat demikian
berlaku juga pada individu konsumen sebagai unit terkecil dari suatu
masyarakat. Para konsumen selalu cendrung
melihat pada untung-rugi bagi lingkungannya dan mengkaitkan pada kebutuhan
serta motivasi, nilai dan latar belakang kebudayaannya. Apabila seseorang
merencanakan untuk membeli mobil, misalnya, ia pasti memperhatikan banyak hal
termasuk warna, lingkungan di mana ia mukim, membaca banyak iklan, mengamati
mobil-mobil yang ada di jalan-raya atau yang sedang di pamerkan oleh para
dealers, dan lain-lain. Jika kebutuhan
seseorang sangat mendesak, maka kecendrungannya untuk mengamati terhadap obyek
yang relevan dengan kebutuhan itu akan meningkat seirama dengan rasa emosional
yang ia miliki.
Para konsumen yang berbelanja di
Supermarket dalam keadaan lapar misalnya, mungkin akan cepat terperanjat
terhadap makanan yang dikemas merangsang meskipun barang itu masih asing
baginya. Bahkan pernah diusulkan oleh
Lembaga Konsumen di AS, agar untuk menyesuaikan budget ekonomi anda - Jangan
pergi ke Supermarket dalam keadaan lapar. Persepsi terhadap nilai-nilai yang
menguntungkan seseorang sangat terpengaruh oleh latar-belakang kebudayaan
masing-masing.
Ada contoh, misalnya produsen soft-drink menciptakan
perangsang emosi calon pembelinya untuk melawan kehausan dengan
kalimat/gambar/warna yang mengacu pada kesegaran alam atau daerah pegunungan es
- tentu semua ini akan tidak dimengerti oleh konsumen yang bertempat di
lingkungan yang berbeda dan mempunyai latar belakang kebudayaan berbeda pula. Adapula
kalimat yang humoristik atau sejenis yang pada umumnya ingin menambah / merubah
persepsi konsumen yang sangat sadar baca-tulis (literal-minded) seperti slogan
produk BBM Esso yang berbunyi "A
Tiger In Your Gas Tank" Slogan ini
tidak berhasil menarik perhatian di Swiss, bahkan diragukan maksudnya karena kalimat itu sama sekali asing dan
tidak dapat dicerna oleh konsumen di sana. Jargons seperti, bebas dari ....., santai,
asri atau segar, sehat, new dan sejenis yang sering tercantum pada kemasan atau
materi promosi harus hati-hati cara menyampaikan, juga warna harus dipertimbangkan.
Istilah teknis seperti yang sering kita baca pada iklan mobil yang berbunyi
: Aero-Dynmis, Audio sekian Decibel dll.
jarang dimengerti oleh konsumen bahkan cenderung membohongi karena istilah itu
tidak didukung oleh suatu hasil penelitian teknis-laboratoris.
Hasilnya, semua ini akan menimbulkan persepsi yang salah
karena berbedanya latar-belakang sosial-budaya konsumen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar