Minggu, 23 November 2014

Kesiapan Menghadapi AFTA 2015

Nama : Gisella Prada Ratgaciwi
NRP   : 3203013187

KESIAPAN MENGHADAPI AFTA 2015

Selangkah lagi sebuah pasar ekonomi terbesar di kawasan ASEAN akan dimulai, tepatnya diakhir tahun 2015 mendatang. Hal tersebut telah disepakati bersama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang terakhir di Phnom Penh dan Indonesia akan turut serta dalam kegiatan tersebut. ASEAN Free Trade Area (AFTA) akan mencakup 5 besar aspek produksi yaitu aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, aliran modal dan aliran bebas tenaga kerja terampil. Hal tersebut tentu perlu di persiapkan matang-matang oleh Indonesia. Di posisi pendatang baru, Indonesia harus tampil dengan performa yang sempurna. Mengingat kembali bahwa ASEAN Free Trade Area (AFTA) ini adalah sebuah peluang bagi kemajuan ekonomi bagi Indonesia. Indonesia diharapkan memiliki kekuatan yang setara dengan Negara lain yang ada di ASEAN. Khususnya kekuatan dalam hal sumber daya manusia, mengapa demikian?  Karena sumber daya manusialah yang akan berhadapan langsung dalam kegiatan ekonomi tingkat regional ini.
Philip Kotler menyatakan lewat buku yang ia tulis, sebuah bangsa akan berkembang dalam era globalisasi apabila memiliki kualitas yang baik dalam pembangunan infrastruktur fisik, infrastruktur teknologi, infrastruktur dan kekuatan human capital serta dukungan infrastruktur untuk usaha kecil.
Bagaimana keadaan di Indonesia bila ditelusuri secara mendalam? Harus diakui bahwa di Indonesia banyak kekurangan terhadap keempat hal tersebut. Peringkat dan kedudukan Indonesia di mata ekonomi regional ASEAN pun lemah, yaitu berada di bawah kedudukan Thailand, Singapura, dan Malaysia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang indikator pendidikan menyebutkan, tahun 2011 Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi tahun 2011 mencapai 17,28 persen. Ini artinya, hanya 17,28 persen dari proporsi anak sekolah dalam kelompok usia Perguruan Tinggi yang mendapatkan Pendidikan Tinggi.
Tentu saja angka tersebut masih mengkhawatirkan. Bagaimanapun, kompetisi tinggi membutuhkan kapasitas pendidikan tinggi. Dengan tingkat partisipasi 17,28 persen, artinya masih banyak anak Indonesia yang belum dapat mengikuti pendidikan tinggi. Dalam konteks kemampuan kompetisi global, akan sangat diragukan kapasitas untuk berkompetisi dengan tenaga kerja asing, khususnya dalam memperebutkan pasar di dalam negeri dan Asean. Dikhawatirkan, jangankan di pasar Asean, di dalam negeri sendiri, tenaga kerja Indonesia akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Indonesia meluluskan 800 ribu sarjana setiap tahun. Saat ini hanya 1 dari 4 anak Indonesia yang berkesempatan masuk ke Perguruan Tinggi.
Artinya, peluang masuk ke Perguruan Tinggi di Indonesia masih rendah, belum lagi kualitas kelembagaan Perguruan Tinggi itu sendiri, kualitas lulusannya, kualitas risetnya, dan kesiapan dari sisi profesionalisme kerja. Kurikulum perguruan tinggi, termasuk di dalamnya akademi, sepertinya belum mempersiapkan para mahasiswanya untuk mampu bersaing di pasar global, khususnya Asean. Tentu saja, hal ini sangat memprihatinkan.
Belum lagi, Human Development Index 2011 yang dikeluarkan UNDP menyebutkan, Indonesia berada di urutan ke 124 dari 187 negara yang dinilai. Ini sungguh ironis dan menyedihkan. Karena Indonesia setingkat dengan negara Honduras, Kiribati dan Afrika Selatan.
Profil manusia Indonesia yang cukup mengkhawatirkan karena akan dihadapkan pada persaingan ketat. Selain sekolah formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bagaimana dengan kualitas lembaga kursus dan balai latihan kerja? Karena lembaga pendidikan informal dan nonformal itu sangat penting untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia.
Lalu bagaimana pula dengan budayanya, sikap mental, entrepreneurship dan kesanggupan untuk bersaing, tentu saja hal ini terkait soft skill. Masih ada cukup banyak daftar panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Namun, yang menyedihkannya adalah belum adanya kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir penyiapan sumber daya manusia.
Rangkaian penyiapan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas harus terintegrasi, estafetanya harus tegas, dan kualitasnya harus terus meningkat mulai dari hulu hingga hilir. Sehingga yang akan lahir adalah manusia-manusia terbaik dari sisi moral, intelektual dan keterampilannya. Untuk itu semua, dibutuhkan sekolah dengan fasilitas dan kualitas terbaik, guru yang hebat dan kurikulum yang membumi.
Bangsa yang sumber daya manusianya berkualitas, menurut Soedijarto (2008), di bidang ekonominya memiliki kemampuan untuk mengolah dan mengelola sumber daya alam, mengembangkan teknologi, menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia, mampu mengelola modal dan mengelola perdagangan yang dapat bertahan dan maju secara berkesinambungan.
Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa yang sumber daya manusianya berkualitas memiliki infrastruktur teknologi unggul, sehingga mereka dapat terus bertahan, bersaing dan maju. Tentu saja, untuk mencapai itu semua bukan proses pendek, melainkan suatu perjalanan panjang dari program pembangunan yang holistik dan berkelanjutan.
Pembangunan SDM yang berkualitas harus dipersiapkan sedini mungkin. Dari lingkungan keluarga, sekolah dasar, sekolah lanjutan hingga perguruan tinggi, sebagai kesinambungan proses pendidikan yang tak terputus. Pada keluarga lah, orang tua memiliki peran penting untuk membentuk karakter generasi muda yang bermoral dan kreatif.  Di tingkat sekolah dasar hingga tingkat atas, anak harus didorong untuk tumbuh sebagai pribadi yang bermoral, kreatif dan berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Pendidikan yang baik akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi pribadi yang profesional untuk memberikan jasa untuk semua kebutuhan manusia Indonesia dan dunia. Sumber daya manusia yang berkualitas akan selalu memberikan nilai manfaat bagi seluruh umat manusia.

Perkara kesiapan menghadapi AFTA 2015, tidak ada jawaban yang tepat dan tidak perlu saling mencari kesalahan tentunya. Kejujuran pada diri sendiri, evaluasi menyeluruh  terkait dengan posisi objektif saat ini dan apa yang akan dilakukan di sisa waktu yang masih ada, akan menjadi energi akselerasi yang meminimalkan ketertinggalan. Menjadi penonton di pinggiran atau menjadi pelaku utama. 

Sumber-sumber referensi :
http://analisadaily.com/news/read/afta-2015-dan-ketidaksiapan-sdm-indonesia/53995/2014/08/12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar