NRP : 3203013187
KESIAPAN MENGHADAPI AFTA 2015
Selangkah lagi sebuah pasar ekonomi terbesar di kawasan
ASEAN akan dimulai, tepatnya diakhir tahun 2015 mendatang. Hal tersebut telah
disepakati bersama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang terakhir di
Phnom Penh dan Indonesia akan turut serta dalam kegiatan tersebut. ASEAN Free
Trade Area (AFTA) akan mencakup 5 besar aspek produksi yaitu aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi,
aliran modal dan aliran bebas tenaga kerja terampil. Hal tersebut tentu perlu di
persiapkan matang-matang oleh Indonesia. Di posisi pendatang baru, Indonesia
harus tampil dengan performa yang sempurna. Mengingat kembali bahwa ASEAN Free
Trade Area (AFTA) ini adalah sebuah peluang bagi kemajuan ekonomi bagi
Indonesia. Indonesia diharapkan memiliki kekuatan yang setara dengan Negara
lain yang ada di ASEAN. Khususnya kekuatan dalam hal sumber daya manusia,
mengapa demikian? Karena sumber daya
manusialah yang akan berhadapan langsung dalam kegiatan ekonomi tingkat
regional ini.
Philip Kotler menyatakan lewat buku yang ia
tulis, sebuah bangsa akan berkembang dalam era globalisasi apabila memiliki
kualitas yang baik dalam pembangunan infrastruktur fisik, infrastruktur
teknologi, infrastruktur dan kekuatan human
capital serta dukungan infrastruktur untuk usaha kecil.
Bagaimana keadaan di Indonesia
bila ditelusuri secara mendalam? Harus diakui bahwa di Indonesia banyak
kekurangan terhadap keempat hal tersebut. Peringkat dan kedudukan Indonesia di
mata ekonomi regional ASEAN pun lemah, yaitu berada di bawah kedudukan
Thailand, Singapura, dan Malaysia.
Data
Badan Pusat Statistik (BPS)
tentang indikator pendidikan menyebutkan, tahun 2011 Angka Partisipasi Kasar
(APK) Perguruan Tinggi tahun 2011 mencapai 17,28 persen. Ini artinya, hanya
17,28 persen dari proporsi anak sekolah dalam kelompok usia Perguruan Tinggi
yang mendapatkan Pendidikan Tinggi.
Tentu saja angka tersebut masih mengkhawatirkan.
Bagaimanapun, kompetisi tinggi membutuhkan kapasitas pendidikan tinggi. Dengan
tingkat partisipasi 17,28 persen, artinya masih banyak anak Indonesia yang
belum dapat mengikuti pendidikan tinggi. Dalam konteks kemampuan kompetisi
global, akan sangat diragukan kapasitas untuk berkompetisi dengan tenaga kerja
asing, khususnya dalam memperebutkan pasar di dalam negeri dan Asean.
Dikhawatirkan, jangankan di pasar Asean, di dalam negeri sendiri, tenaga kerja
Indonesia akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Indonesia meluluskan
800 ribu sarjana setiap tahun. Saat ini hanya 1 dari 4 anak Indonesia yang berkesempatan
masuk ke Perguruan Tinggi.
Artinya, peluang masuk ke Perguruan Tinggi di Indonesia masih
rendah, belum lagi kualitas kelembagaan Perguruan Tinggi itu sendiri, kualitas
lulusannya, kualitas risetnya, dan kesiapan dari sisi profesionalisme kerja.
Kurikulum perguruan tinggi, termasuk di dalamnya akademi, sepertinya belum
mempersiapkan para mahasiswanya untuk mampu bersaing di pasar global, khususnya
Asean. Tentu saja, hal ini sangat memprihatinkan.
Belum lagi, Human Development Index 2011 yang
dikeluarkan UNDP menyebutkan, Indonesia berada di urutan ke 124 dari 187 negara
yang dinilai. Ini sungguh ironis dan menyedihkan. Karena Indonesia setingkat
dengan negara Honduras, Kiribati dan Afrika Selatan.
Profil manusia Indonesia yang cukup
mengkhawatirkan karena akan dihadapkan pada persaingan ketat. Selain sekolah
formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bagaimana dengan kualitas
lembaga kursus dan balai latihan kerja? Karena lembaga pendidikan informal dan
nonformal itu sangat penting untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia.
Lalu bagaimana pula dengan budayanya, sikap mental, entrepreneurship
dan kesanggupan untuk bersaing, tentu saja hal ini terkait soft skill. Masih
ada cukup banyak daftar panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia
yang berkualitas. Namun, yang menyedihkannya adalah belum adanya kebijakan yang
terintegrasi dari hulu ke hilir penyiapan sumber daya manusia.
Rangkaian penyiapan sumber daya manusia
Indonesia yang berkualitas harus terintegrasi, estafetanya harus tegas, dan
kualitasnya harus terus meningkat mulai dari hulu hingga hilir. Sehingga yang
akan lahir adalah manusia-manusia terbaik dari sisi moral, intelektual dan
keterampilannya. Untuk itu semua, dibutuhkan sekolah dengan fasilitas dan
kualitas terbaik, guru yang hebat dan kurikulum yang membumi.
Bangsa yang sumber daya manusianya berkualitas, menurut Soedijarto
(2008), di bidang ekonominya memiliki kemampuan untuk mengolah dan mengelola
sumber daya alam, mengembangkan teknologi, menghasilkan komoditas yang bermutu
dan dapat bersaing di pasar dunia, mampu mengelola modal dan mengelola
perdagangan yang dapat bertahan dan maju secara berkesinambungan.
Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa yang sumber daya
manusianya berkualitas memiliki infrastruktur teknologi unggul, sehingga mereka
dapat terus bertahan, bersaing dan maju. Tentu saja, untuk mencapai itu semua
bukan proses pendek, melainkan suatu perjalanan panjang dari program
pembangunan yang holistik dan berkelanjutan.
Pembangunan SDM yang berkualitas harus
dipersiapkan sedini mungkin. Dari lingkungan keluarga, sekolah dasar, sekolah
lanjutan hingga perguruan tinggi, sebagai kesinambungan proses pendidikan yang
tak terputus. Pada keluarga lah, orang tua memiliki peran penting untuk
membentuk karakter generasi muda yang bermoral dan kreatif. Di tingkat
sekolah dasar hingga tingkat atas, anak harus didorong untuk tumbuh sebagai
pribadi yang bermoral, kreatif dan berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Pendidikan yang baik akan melahirkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi pribadi yang
profesional untuk memberikan jasa untuk semua kebutuhan manusia Indonesia dan
dunia. Sumber daya manusia yang berkualitas akan selalu memberikan nilai manfaat
bagi seluruh umat manusia.
Perkara kesiapan menghadapi AFTA 2015, tidak ada
jawaban yang tepat dan tidak perlu saling mencari kesalahan tentunya. Kejujuran
pada diri sendiri, evaluasi menyeluruh terkait dengan posisi objektif
saat ini dan apa yang akan dilakukan di sisa waktu yang masih ada, akan menjadi
energi akselerasi yang meminimalkan ketertinggalan. Menjadi penonton di
pinggiran atau menjadi pelaku utama.
Sumber-sumber referensi :
http://analisadaily.com/news/read/afta-2015-dan-ketidaksiapan-sdm-indonesia/53995/2014/08/12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar